~ Natural Born Liars ~ part 1
Berbohong sudah menjadi suatu kebiasaan buruk, dimana kebohongan bisa menjadi sebuah literatur dari jaman ke jaman dimana kita bisa sangat menikmati alur literatur yang dibumbui oleh adegan adegan tersebut. Seperti Mark Twain pernah berkata:
“Everybody lies . . . everyday, every hour, awake, asleep, in his dreams,in his joy, in his mourning. If he keeps his tongue still his hands, his feet, his eyes, his attitude will convey deception.”
Dan sepertinya ketidakjujuran sudah menjadi kondisi yang fundamental, yang bisa dengan kehendak bebas bisa dengan tanpa batasan keluar begitu saja. Pengakuan dari Mark Twain sepertinya makin kukuh dengan percobaan yang pernah dilakukan oleh Robert S. Feldman seorang Psikolog dengan secara diam diam merekam pembicaraan beberapa siswa yang sengaja dipertemukan dan diwawancarai oleh seorang yang tidak dikenal oleh siswa tersebut, dan dari hasih wawancara tersebut, shocking fact.. dari hasil wawancara setelah sang psikolog membeberkan rekaman ke siswa tersebut mengakui 60% dari hasil wawancara tersebut adalah bohong belaka.
Secara tidak sadar kita juga telah melakukan kebohongan nonverbal dengan menggunakan Make Up berlebihan, rambut palsu, operasi mempercantik diri, cara berpakaian dan bentuk usaha lain dengan maksud menutupi bentuk yang asli dari penampilan kita. Hal hal di atas tentunya akan menimbulkan satu pertanyaan: Mengapa kita berbohong begitu gampangnya? dan jawabannya adalah: karena berbohong tersebut memang membantu. Kadang kadang kita harus bisa mengikuti alur sosial dari sekitar kita untuk bisa sukses, walaupunn tujuan kita adalah agar tetap bisa memiliki status sosial yang lebih tinggi dari yang lain dengan cara apapun. Berbohong memang bisa membantu, dan berbohong terhadap diri sendiri membantu kita untuk bisa menerima bentuk bentuk kecurangan yang pernah kita lakukan.
You Are Not Alone
Jika memang fakta ini membuat kita tidak merasa nyaman, kita bisa menarik nafas lega karena selain species manusia Homo sapiens, tumbuhan dan hewan hewan dalam komunikasinya menggunakan suara, gerakan, warna tubuh dan cara cara lain menampilkan cara cara yang bisa dikategorikan curang alias berbohong, contohnya adalah Bunga Anggrek, yang mengahasilkan cairan dengan aroma khas untuk mengundang serangga bisa bertahan lama dan memastikan serbuk sari dari anggrek tersebut melekat dengan sempurna pada tubuh serangga terebut, dan terbang bersama serangga ke bunga anggrek lain untuk menghasilkan gen anggrek yang baru. Untuk hal berbohong demikian juga hal tersebut di praktekkan oleh ular hog-nosed yang sama sekali tidak berbahaya, dimana ketika merasa terancam oleh predator, akan meratakan bentuk kepalanya seperti seekor ular kobra dan mendesis seakan akan menyerang predator tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa pembohongan ada kaitannya dalam hal mempertahannkan kelanjutan hidup, namun hal ini semakin ribet ketika kaitan tersebut kita acukan pada manusia saat ini. Popularitas seseorang ada kaitannya dengan kemampuan berbohong dari orang tersebut, kita memalsukan Resume CV ntuk mendapatkan perkerjaan, penjiplakan karya orang lain, berbohong ke partner lain agar bisa dekat dengan seseorang, sebuah riset membuktikan bahwa pembohong lebih gampang mendapatkan perkerjaan, dan mendapatkan pasangan.
Pembodohan Diri Sendiri
Ironisnya, alasan utama mengapa kita gampang berbohong kepada orang lain adalah karena kita begitu gampang berbohong terhadap diri sendiri, Walaupun kita lebih gampang menghakimi orang yang berbohong kepada kita dan lupa akan kebohongan kita sendiri. Pengalaman dibohongi oleh seseorang akan terasa sangat berbekas, walaupun kebohongan kita sendiri akan kita lupakan begitu saja. Fenomema Pembohongan diri sendiri telah membingungkan para Filsuf dan Psikolog dalam 2000 tahun ini.
-
Archives
- January 2009 (1)
- May 2008 (1)
- February 2008 (1)
- January 2008 (2)
- December 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS